Nikah mut'ah atau kawin kontrak ala Syiah
Nikah mut'ah atau kawin kontrak ala Syiah

Pelacuran Berselubung Kawin Kontrak

Posted on

Fenomena nikahsirri.com dengan konten kawin kontraknya membuat saya tergelitik untuk turut berbagi apa yang saya tahu. Pada artikel sebelumnya disini >> Nikahsirri.com, syiah saya ada berbagi sedikit tentang bagaimana situs tersebut menjiplak gaya nikah mut’ah nya kaum Syiah pada salah satu fitur layanannya. Pada artikel kali ini ada sedikit informasi tentang seperti apa sih kawin kontraknya penganut Syiah itu. Dengan begitu kita bisa membandingkan secara jelas kemiripannya.

Apa itu nikah mut’ah alias kawin kontrak?

Perkawinan antara seorang lelaki dan seorang perempuan dengan  sejumlah mas kawin yang disepakati, dengan batasan waktu yang disepakati pula. Itulah definisi singkat dari nikah mut’ah.

Dalam pemahaman Syiah, nikah mut’ah adalah akidah yang wajib diimani. Yang mengamalkan mendapatkan pahala yang ‘super’ besar. Nanti saya list apa saja (pahala) yang akan didapat oleh pelaku kawin kontrak. Sedangkan dalam Islam, menikah (bukan nikah mut’ah ya) memang termasuk dalam ibadah jika diniatkan dalam rangka menjaga ketaatan kepada Allah ta’ala. Tapi nikah tidak masuk dalam kategori akidah. Apalagi nikah mut’ah, tidak ada dalam Islam kita.

Pahala dan Azab Bagi Pelaku dan Pengingkar Nikah Mut’ah

Konsekuensi dalam suatu akidah adalah pahala bagi pelakunya dan dosa/azab bagi pengingkar atau yang meninggalkannya. Pun begitu dengan Mut’ah. Dalam Syiah pelaku mut’ah dapat ganjaran yang besar, malah sebagiannya super besar bila dibandingkan dengan amalannya.

Mungkin sebagian punya pertanyaan, ‘mana buktinya kalau ini masuk dalam ranah akidah?’.  Berikut saya nukilkan dalilnya dari kitab Syiah-nya sendiri :

Dalam kitab mereka yang berjudul Man Laa Yahdhuru Al-Faqih terdapat riwayat dari Ash-Shadiq yang berkata, “Sesungguhnya mut’ah adalah agamaku dan agama Bapakku. Barangsiapa yang mengerjakannya maka dia telah mengamalkan agamanya. Barangsiapa yang mengingkarinya, maka dia telah mengingkari kami dan berakidah dengan selain agama kami.

Maka teks yang ditebalkan disitu tersurat jelas bahwa mut’ah adalah akidah. Barangsiapa yang tidak berakidah ‘mut’ah’ maka dia bukan Syiah. Oya perlu diketahui Ash-Shadiq adalah salah satu Imam Syiah. Dan Imam Syiah haruslah dari keturunan Nabi Muhammad SAW. Artinya ketika riwayat diatas mengatakan ‘agama bapakku’ maka termasuk didalamnya adalah Nabi kita Muhammad SAW.

Ok, kita lanjut ya…

Next, saya lampirkan beberapa dalil azab dan pahala pelaku dan pengingkar mut’ah (salah satunya sudah saya lampirkan terlebih dulu diatas)

  1. Pada kitab yang sama Man Laa Yahdhuru Al-Faqih ada kutipan sabda Nabi yang menyatakan, “Barangsiapa yang melakukan mut’ah dengan seorang wanita, maka dia akan aman dari murka Allah Yang Maha Memaksa. Barangsiapa yang melakukan mut’ah dua kali maka dia akan dikumpulkan bersama orang-orang baik. Barangsiapa yang melakukan mut’ah tiga kali, maka dia akan berdampingan dengan ku di surga.’
  2. Di Kitab yang sama pula ada riwayat dari Abu abdullah yang ditanya apakah dalam mut’ah ada pahala? Maka dia menjawab, ‘Jika dengannya dia mengharap ridha Allah, tidak ada satu kata pun yang dia katakan kecuali Allah akan menuliskannya sebagai suatu kebaikan. Jika dia mendekatinya, maka Allah akan mengampuni dosanya berkat mut’ah yang dia lakukan. Jika dia mandi, maka Allah akan mengampuni dosa sebanyak air yang membasahi rambutnya.’
  3.  Dalam kitab tafsir Manhaj Ashadiqin, seorang ulama Syiah bernama Sayid Fathullah Al-Kasyani meriwayatkan dari Nabi yang bersabda, “Barangsiapa melakukan mut’ah satu kali, maka dia seperti derajat Husain (Cucu Nabi). Barangsiapa yang melakukannya dua kali maka dia seperti derajat Hasan (cucu Nabi). Barangsiapa yang melakukan mut’ah tiga kali maka dia seperti derajat Ali bin Abi Thalib radhiallaahu ‘anhum (menantu Nabi dan sosok yang amat dikultuskan oleh penganut Syiah). Barangsiapa yang melakukannya empat kali maka dia seperti derajatku (Nabi Muhammad SAW)”

Itulah sebagian dalil dari kitab Syiah yang menyatakan secara jelas bahwa nikah mut’ah atau kawin kontrak merupakan ibadah besar, masuk dalam akidah, dengan pahala yang luar biasa ‘menggiurkan’ bagi pelakunya. Bagaimana tidak menggiurkan, wong amalan ibadahnya mudah dan enak ditambah lagi ganjarannya yang ‘WoW’.

NOTE : Riwayat – riwayat diatas adalah riwayat palsu yang disandarkan pada Nabi

Wanita pelaku nikah mut'ah atau kawin kontrak pada film dokumenter
Wanita pelaku nikah mut’ah atau kawin kontrak pada film dokumenter

Kehidupan Sosial Negeri Penganut Kawin Kontrak. Sejahterakah?

Aris Wahyudi selaku pemilik nikahsirri.com yang mengadopsi model kawin kontraknya Syiah ini meyakini bahwa kawin kontrak bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para wanita. Klaimnya ini bukan pelacuran. Kalau pelacuran harga si wanita ditentukan oleh mucikari dan lelakinya, sedangkan kawin kontrak harga si wanita ditentukan oleh wanita itu sendiri dan lelaki. Begitu anggapnya. Benarkah demikian?

Beberapa tahun lalu saya sempat menyaksikan film dokumenter keluaran BBC (kalau tidak salah) yang mengangkat kisah wanita-wanita Syiah Iran yang melakukan pelacuran terselubung berkedok kawin kontrak. Maaf saya tidak melampirkan linknya karena sudah lama sekali, silahkan searching di youtube karena disanalah saya dapatkan videonya.

Film berdurasi 1 jam – kurang lebih – menceritakan bagaimana kehidupan wanita – wanita miskin di Iran yang melacurkan dirinya dengan tanpa harus dianggap melacur. Mereka dengan bebas berdiri dipinggir-pinggir jalan, bahkan ada yang sambil menggendong bayi menanti lelaki (hidung belang) yang bersedia me-mut’ah mereka.

Transaksinya MIRIP SEKALI dengan pelacuran. Tidak ada beda. Si lelaki menawarkan sejumlah mahar dan batas waktu nikah kepada si wanita, jika si wanita setuju dengan tawaran tersebut maka akad kawin kontrak bisa dilakukan saat itu juga.

Walau demikian, bukan berarti taraf ekonomi si wanita kemudian membaik. Yang ada justru semakin terpuruk. Secara psikologis mereka tertekan karena seringkali harus melayani lelaki yang tidak diinginkannya. Pertimbangannya yang penting ‘mahar’ yang diberikan sesuai, walau lelaki buruk rupa, tua renta tidak ada masalah.

Akhirnya tidak sedikit dari mereka menjadi pecandu sebagai pelarian. Uang mahar yang sedianya untuk memperbaiki ekonomi justru malah habis ludes untuk membeli narkoba. Sekedar informasi, pemakai dan peredaran Narkoba di Iran sangat merebak. Kita disini juga sering mendapati berita masuknya narkoba dari sana.

Penderitaan tidak sampai disana, ternyata mut’ah yang mereka lakukan juga membuahkan keturunan. Bertambah lagilah yang harus diberi nafkah. Karena si lelaki tidak dikenakan tanggung jawab untuk memberikan nafkah. Termasuk didalamnya adalah waris. Anak hasil mut’ah tidak mendapatkan hak waris. Tentu kondisi mereka akan semakin terpuruk.

Jadi yang disangkakan oleh Aris Wahyudi pada faktanya sangat jauh dari harapan. Yang ada justru makin rusaknya tatanan kemasyarakatan. Yang lebih ironisnya lagi, ada seorang Ayah yang menikahi (mut’ah) anaknya sendiri. Atau seorang kakak yang menikahi adiknya sendiri. Bagaimana bisa hal itu terjadi?

Seorang lelaki me-mut’ah seorang wanita. Kemudian mereka berpisah setelah habis masanya. Dari mut’ah itu, lahirlah bayi perempuan yang kemudian dirawat hingga dewasa. Sekian puluh tahun kemudian, si anak telah dewasa dan hendak melakukan mut’ah. Karena takdir Allah dipertemukanlah dengan si lelaki yang dulu pernah mut’ah dengan Ibunya. Katakan, apa tidak rusak tatanan masyarakat jika hal ini terjadi?

Belum lagi akan semakin tingginya resiko penyebaran AIDS karena meningkatnya pengguna narkoba dan seringnya bergonta-ganti pasangan.

Nikah Mut’ah atau Kawin Kontrak Dalam Pandangan Islam

Di artikel ‘nikahsirri.com, syiah?’ sudah ada pembahasannya tentang hukum nikah mut’ah alias kawin kontrak ini. Silahkan mampir ke artikel tersebut untuk lebih jelas. Singkatnya saja, nikah mut’ah atau kawin kontrak atau lelang perawan atau apapun itu namanya selama prakteknya serupa hukumnya tetap HARAM!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *